PENGEMBARAAN SANTRI

                Langit kelabu dengan gumpalan awan hitam disertai suara petir yang silih berganti, tidak membuatku patah semangat untuk bersiap mengajar di musholla. Meskipun ini sudah pertanda bahwa akan turun hujan yang lebat, tapi Aku yakin, adik-adikku disana lebih bersemangat untuk melangkahkan kakinya ke musholla untuk menuntut ilmu agama.

                Aku Raihanun, siswi kelas 3 di Madrasah Aliyah Karang Miri. Di setiap sorenya, Aku selalu membantu ustadzku untuk membimbing dan mengajari santri-santri beliau dalam mengaji buku iqra`, tajwid, do`a-do`a, praktik sholat, hafalan juz `amma dan yang lainnya.

                Kalau keseharianku, di pagi harinya Aku adalah seorang siswi, di sore hari Aku menjadi ustadzah, sedangkan di malam harinya Aku adalah seorang santri. Sebenarnya, Aku sudah menginginkan untuk belajar mengaji sejak dahulu Aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Aku masih ingat kala itu, ketika Aku selalu diantarkan oleh Ibuku ke musholla untuk belajar iqra` dan yang lainnya.

                Disana, Ibuku mengenalkan kepadaku seorang ustadz yang sangat baik. Namanya ustadz Munas. Beliaulah yang selalu membimbing dan mengajariku dengan penuh kesabaran. Tatkala itu, Aku masih melihat sedikit santri yang belajar di sana. Tetapi lambat laun sungguh Aku tidak menyangka bahwa musholla yang besar itu sudah dipenuhi oleh mujahidah yang haus akan ilmu, terutama ilmu agama. Masya Allah….

                Sampai waktu berjalan dengan begitu cepatnya, tak terasa saat itu Aku sudah dibimbing enam tahun lamanya oleh ustadz Munas. Ketika itu, Aku sudah menyelesaikan iqra`ku, hafalan juz `amma dan juga do`a-do`a pilihan. Betapa senangnya saat itu, saat dimana ustadz Munas mengadakan acara khotmil qur`an setelah selesainya hafalanku di juz 30.

                Ustadz Munas adalah sosok orang yang sangat teliti dan rajin juga istiqomah. Beliau adalah hafidz 30 juz. Setiap santrinya tidak diperbolehkan untuk melanjutkan bacaan Al-Qur`annya sebelum sempurnanya bacaan iqra` serta paham mengenai hukum-hukum tajwid didalamnya. Seperti Aku, yang baru menyelesaikan iqra` di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah. Aku harus sabar, memang benar, barang siapa yang sedang menuntut ilmu haruslah istiqomah dan sabar untuk memetik buah manisnya.

                Hingga saatnya Aku memasuki masa Madrasah Aliyah. Alhamdulillah, Aku masih istiqomah untuk tetap belajar mengaji disini. Dengan bertambah lamanya kita menuntut ilmu, maka akan semakin bertambah pula ilmu yang didapatkan. Seperti Aku saat ini. Sekarang Aku sudah belajar lebih banyak  kitab lagi. Seperti kitab kuning, kitab safiinatunnajaa, kitab sullamut taufiq dan lain sebagainya. Sungguh, Aku merasakan nikmatnya menuntut ilmu saat itu.

                Suatu siang, setelah pulang dari sekolah, Ibu langsung memberitahuku bahwasannya Ustadz Munas memintaku untuk menemui beliau dirumahnya siang ini. Ketika itu pula, Aku langsung menemui beliau di rumahnya. Sebenarnya, persaanku saat ini diliputi rasa takut dan khawatir dan juga penasaran. Takut karena mungkin Aku telah berbuat suatu kesalahan yang tak ku sadari. Tapi mau tidak mau Aku harus segera kesana untuk mendapatkan jawabannya.

                Sesampainya di rumah ustadz Munas, Aku memberanikan diri ntuk mulai mengucapkan salam dan mengetuk pintu.

“Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarokatuh..” tetapi, tidak ada jawaban.. akhirnya aku mengulang untuk kedua kalinya setelah menunggu beberapa menit.

“Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarokatuh..” terdengar suara langkah kaki dari dalam, sampai keluarlah seorang ibu dengan pakainnya yang rapi.

“Wa`alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh.. oo,, Raihanun yang datang, cari siapa Nun?” dengan ramahnya beliau menyambutku. Beliau adalah ibu Kurnia, ibu ustadz Munas.

“Ma`af bu, tadi Ustadz Munas meminta saya untuk datang kesini,,” jawabku dengan hati-hati.

“Ooohh.. Munas,,, iya,, iya,, masuk dulu ya Nun.. biar kamu tunggu Munas di dalam saja,”

“Iya bu, terimakasih banyak..”

                Aku akhirnya masuk ke rumah ustadz Munas. Walaupun dengan persaan yang masih takut. Untuk mengurangi rasa takutku, lebih baik Aku muroj`aah hafalan Al-Qur`an yang sudah ku punya. Walaupun masih sedikit, tidak apa lah.. jika Allah meridhai, Aku juga ingin mengkhatamkannya sepeti halnya ustadz Munas. Amiin..

                Bebarapa saat kemudian, ustadz Munas keluar dari kamarnya yang berada tepat di sebelah ruang tamu. Akupun segera berdiri dan tanpa basa basi langsung mengucapkan salam..

“Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarokatuh ustadz..”

“Wa`alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh.. silakan duduk saja Nun..” dengan santainya ustadz Munas mempersilakanku untuk duduk kembali.           Dengan mengambil tempat duduk di pojok kursi, dan tanpa menunggu waktu lama lagi, ustadz Munas langsung memulai pembicaraan.

“Jadi begini ya Nun,, maksud ustadz memanggil kamu kesini, yaitu untuk dua hal. Hal yang pertama adalah pertanyaan, sedangkan hal yang kedua adalah pernyataan. Yang pertama, ustadz mau bertanya sama kamu Nun. Apa kamu berniat untuk melanjutkan hafalan Al-Qur`anmu? Karena sebenarnya ustadz merasakan bahwa kamu memiliki kelebihan yaitu cepat dalam mengafalkan sesuatu, apalagi Al-Qur`an, seperti halnya kamu yang sudah menghafalkan juz `amma dan surat-surat pilihan lainnya. Ini kesempatan kamu Nun, untuk menjadi anak sholihah yang membanggakan dan membahagiakan kedua orang tuamu, terutama ayahmu yang kini sudah di sisi Allah, Insya Allah. Yang selalu mengharapkan do`a dari anaknya yang sholihah. Bagaimana Nun, kamu siap untuk melanjutkan hafalan Al-Qur`anmu kan??”

                Allahu Akbar,, Aku kaget sejadi-jadinya. Bagaimana bisa ustadz Munas menanyakan hal itu? Seperti tau saja apa niat dan keinginanku, apa ini merupakan jalan Allah melalui ustadz Munas untukku melanjutkan hafalanku? Sebetulnya, Aku sudah pernah berbicara tentang ini bersama Ibuku. Dan Alhamdulillah Ibu sangat mendukungku. Asalkan, Aku tidak boleh mengeluh atas apa yang akan jalani kedepannya. Dan selalu muroja`ah disetiap saat.

                “Bismillah, Insya Allah saya mau ustadz, saya siap untuk melanjutkan kembali hafalan Al-Qur`an.. dengan bimbingan ustadz, semoga saya bisa dimudahkan untuk menjadi hafidzah yang diberkahi Allah..” dengan penuh rasa yakin, Aku menyampaikan apa yang ada di pikiran dan hatiku sekarang.

“Alhamdulillah,, Barakallah. Semoga Allah mengabulkan keinginanmu dan memberikan yang terbaik untukmu ya Nun.. Ya sudah, mulai besok kamu setoran hafalanmu ke ustadz setelah kamu ngaji kitab ya.. ” begitulah kata ustadz Munas menjelaskan.

“Amiin… Allahu Yubaarik fiih. Baik ustadz, besok Insya Allah saya mulai menyetorkan hafalan saya kepada ustadz..”

“Baik,,, Oh yaa, untuk hal yang kedua, ustadz ingin mengangkat kamu sebagai pengajar di sini Nun, sebagai ustadzah yang mengajari santri-santri ustadz. Ustadz lihat dan ustadz perhatikan kamu ini sudah sangat cocok untuk menjadi guru. Ilmumu Insya Allah sudah cukup Nun, untuk kamu berikan kepada adik-adikmu yang masih belajar dasar dari iqra` dan tajwid. Agar ilmu yang sudah kamu dapatkan bisa lebih bermanfaat lagi.”

                Lagi-lagi aku terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh ustadzku. Aku masih belum percaya, apakah aku ini sudah pantas untuk berdiri sebagai guru mengaji? Apa ilmu yang kudapatkan selama ini sudah lebih dari cukup? Ah,, tapi ini adalah kesempatan bagiku untuk mengawali cita-citaku yaitu menjadi seorang ustadzah, cita-cita yang sangat ibu harapkan bagiku, mungkin ini adalah salah satu cara untuk mewujudkan harapan ibuku. Belum selesai aku memikirkanya, suara ustadz Munas mengaburkan lamunanku.

                “Lho.. Raihanun, kok melamun?” tegur ustadz Munas dengan nada agak bingung.

"Alhamdulillah, Raihanun senang sekali dengan ini ustadz, menjadi ustazah adalah salah satu cita-cita besar yang diharapkan oleh Raihanun, terutama ibu dan ayah. Raihanun bersyukur sekai jika ustadz Munas mempercayai saya untuk membantu ustadz dalam mengajari santri-santri ustadz disini. Dengan senang hati Raihanun bersedia ustadz, untuk mengajar disini..” demikian kiranya jawabanku atas ustadz Munas.

“Alhamdulillah.. ustadz senang sekali mendengarnya Nun. Lakukan semua ini dengan ikhlas ya.. jangan pernah mengeluh terhadap apa yang kamu hadapi kedepan. Baiklah, nanti sore kamu mulai ya Nun, adik-adikmu sudah menunggumu tuh..” ustadz Munas seperti bercanda sedikit agar membuatku tidak merasa tegang.

                Aku hanya tertawa kecil mendengar perkataan ustadz Munas. Setelah itu, ustadz Munas mempersilakanku untuk besiap-siap mengajar sore nanti. Aku harus selalu mengingat pesan-pesan dan nasehat-nasehat dari orang-orang disekitarku, terutama ibu dan guruku.

                Dan sejak saat itu, Aku adalah ustadzah yang dinanti-nanti oleh santri-santri sholih dan sholihah yang selalu menghormatiku layaknya Aku adalah guru-guru besar, walaupun Aku masih duduk di bangku Madrasah Aliyah. Aku akan selalu membinbing dan mengajari mereka dengan ikhlas,, karena dengan mengajar, Aku merasakan rasa saling menyayangi antara guru dan santri, yang Insya Allah mereka akan membawaku menuju surga-Nya. Amiin..

 

               

               

Komentar